Langsung ke konten utama

Tugas 2 - Softskill Bahasa Indonesia 2

Karangan Ilmiah

Judul PI: Virtual Reality dalam Simulasi Produktif menggunakan hardware dan software

1.1 LATAR BELAKANG
        Game merupakan salah satu aplikasi interaktif yang melibatkan hubungan antara manusia dengan komputer maupun manusia dengan manusia.Manusia dapat saling berkomunikasi melalui sebuah game. Perkembangan game dari jaman ke jaman sangat pesat sekali, termasuk di Indonesia juga. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya komunitas - komunitas game didunia maya maupun di Game Center seperti warnet.Game sangat erat kaitannya dengan Visual Graphic, oleh karena itu semakin baik kualitas Visual Graphic dari sebuah game tentu saja memberi nilai lebih terhadap game tersebut. Belakangan ditemukan teknologi baru yang disebut Virtual Reality, teknologi ini memungkinkan user melakukan simulasi terhadap suatu objek nyata dengan menggunakan komputer yang mampu membangkitkan suasana tiga dimensi (3-D) sehingga membuat pemakai seolah-olah terlibat secara fisik.

          Virtual Reality membutuhkan perangkat penunjang agar dapat menjalankan teknologi tersebut, salah satunya adalah Oculus Rift. Oculus Rift dikategorikan sebagai headmounted display(HMD) 3D, Perangkat tersebut dikenakan di kepala (seperti kacamata). Namun, di dalamnya ada layar selebar 7 inci. Layar tersebut memberikan pengguna pengalaman stereoskopik (3D), memberi kesan ruang. Mata kiri melihat area lebih di kiri, dan begitupun sebaliknya. Alhasil, kedua mata tidak saling overlapping sehingga dampak vertigo, pusing, atau mual dapat diminimalisir. Di situs Youtube banyak ditemukan review mengenai bagaimana game - game console dari Xbox dan Playstation seperti Team Fortress 2, Skyrim, Battlefield 3, Halflife 2 hingga Minecraft dimainkan menggunakan perangkat Oculus Rift.


         Virtual Reality tidak hanya dapat diimplementasikan dalam game, teknologi ini dapat di implementasikan dalam berbagai macam bidang seperti arsitek, pekerja medis, simulasi penerbangan untuk pilot bahkan dapat digunakan dalam bidang militer. Virtual Reality Modeling Language(VRML) merupakan suatu format komputer yang dapat menjelaskan object 3 dimensi untuk digunakan secara online maupun offline. VRML memiliki kemampuan menampilkan objek 3 dimensi statis maupun dinamis dan object multimedia melalui hyperlink seperti text, suara, gambar, dan film.

1.2 RUMUSAN MASALAH
            Ruang lingkup atau batasan yang akan dibahas dalam paper ini adalah sebagai berikut :
Deskripsi Virtual Reality yang meliputi informasi umum, cara kerja teknologi Virtual Reality.
Elemen – elemen yang terdapat dalam Virtual Reality.
Dampak positif dan negatif dari teknologi Virtual Reality.
Game – game yang cocok menggunakan Virtual Reality.

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT

1.3.1 TUJUAN
1.      Memberikan pengalaman bermain game yang lebih nyata bagi para penggunanya. Dalam hal ini Virtual Reality mampu membuat pengguna merasakan seolah-olah berada dalam game yang dimainkan.
2.     Meningkatkan tingkat kepuasan/kesenangan bagi penggunanya ketika bermain game, karena bermain game menggunakan Virtual Reality tentu saja sangat berbeda jauh dengan tanpa menggunakan Virtual Reality.
3.     Dengan Virtual Reality akan mempermudah seorang instruktur memberikan pelatihan dalam bentuk simulasi – simulasi seperti simulasi penerbangan, simulasi perang, simulasi penjinakkan bom serta simulasi operasi medis yang dapat dirancang ke dalam bentuk permainan namun dengan Visual Graphic yang jauh lebih nyata.

1.3.2 MANFAAT
Diharapkan dengan diimplementasikannya teknologi Virtual Reality ke dalam game akan membuat para pemain mampu merasakan emosi yang lebih nyata seolah – olah pemain benar – benar berada didalam game tersebut.

1.4 METODE PENULISAN          
Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode studi pusaka. Dimulai dari media buku, mengumpulkan informasi dan mempelajari buku - buku mengenai virtual reality. Media internet, mencari informasi tentang virtual reality. 


Semi Ilmiah

Tema: EKSISTENSI BAHSA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

        Eksistensi Bahasa Indonesia Pada era globalisasi sekarang ini, jati diri bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh dan budaya asing yang tidak sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih harus dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati diri bahasa Indonesia. Ini semua menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional, pemakai bahasa Indonesia yang berdisiplin adalah pemakai bahasa Indonesia yang patuh terhadap semua kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. 

        Disiplin berbahasa Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya dari pengaruh negatif asing atas kepribadiannya sendiri. Bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, peningkatan pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah perlu dilakukan melalui peningkatan kemampuan akademik para pengajarnya. Bahasa dan Sastra Indonesia adalah sebagai sarana pengembangan penalaran. Pembelajaran bahasa Indonesia selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, bernalar, dan kemampuan memperluas wawasan. Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana keilmuan perlu terus dilakukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

        Seirama dengan ini, peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu terus dilakukan. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah berusia ± 80 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mampu mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan, sebab sudah banyak merasakan lika-liku dan pahit-getirnya perjalanan sejarah. Untuk menggetarkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, pemerintah telah menempuh politik kebahasaan, dengan menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. 

         Pertanyaan bernada pesimis justru bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestasi tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu? Jika kita melihat kenyataan di lapangan, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Para penuturnya masih dihinggapi sikap inferior (rendah diri) sehingga merasa lebih modern, terhormat, dan terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing, padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak, pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah: kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya (Sawali Tuhusetya, 2007). 

       Melihat persoalan di atas, tidak ada kata lain, kecuali menegaskan kembali pentingnya pemakaian bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Hal ini –disamping dapat dimulai dari diri sendiri- juga perlu didukung oleh pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lepas dari belajar membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan kemampuan bersastra. Aktivitas membaca merupakan awal dari setiap pembelajaran bahasa. Dengan membaca, masyarakat khususnya pelajar yang menyandang gelar kaum intelektual dilatih mengingat, memahami isi bacaan, meneliti kata-kata istilah dan memaknainya. Selain itu, pelajar juga akan menemukan informasi yang belum diketahuinya.


Non Ilmiah

Judul: Arti Sebuah Perjuangan

Apa itu kehidupan… Apakah orang seperti aku tak boleh mengetahuinya, kenapa aku dilahirkan di dunia ini hanya untuk belajar, bekerja mencari nafkah dan tak tau apa itu arti sebuah kehidupan, apakah aku memang tak pantas tau apa itu sebuah kehidupan, ketika aku sendiri tak ada yang menemani, kenapa aku tak bisa apa apa kenapa aku hanya bisa bergantung kepada kedua orangtuaku, sekolah aku dibiyayai orang tuaku, bekerja pun aku hanya ikut orangtuaku.

Apa aku tak pantas punya jalan kehidupan sendiri, apa aku tak pantas hidup yang mengenal apa itu sebuah kehidupan.
“herman cepat ambilkan dokumen ayah di ruang dokumen” perintah ayah singkat.
“iya yah..!” segera aku turun ke lantai dua untuk mengambil dokumen yang ayah pinta.
Tak kusangka sangka ketika aku melewati jendela kaca di lantai dua itu aku melihat seseorang yang sedang mengambil plastik sampah yang berceceran di halaman kantor. Aku pun memperhatikanya beberapa saat, ternyata pemuda itu tak asing bagiku, ternyata ia adalah firman teman ku waktu di sma dulu, aku pun segera turun menghampirinya

“firman…!”
Firman terpaku ketika melihatku mendekatinya.
“her herman…”
Setelah kami ngobrol cukup lama di bawah pohon di depan kantor aku segera kembali ke kantor dan dengan membawa
Alamat rumah firman.
Alangkah buruk nasip firman, padahal dulu ia seorang yang pandai di kelasku, aku pun dulu sering meminta diajari soal metematika, akan tetapi lihatlah sekarang, rumah reot, sudah ditambal dimana mana dan atap rumahnya pun sudah banyak yang bolong.
“yah beginilah rumahku herman, setelah ayah dan ibuku meninggal aku hidup sebatang kara dan lihat lah aku sekarang tak bisa mengurus diriku sendiri”

Sembari aku melihat keluar jendela aku bertanya pada firman. “fir bantulah aku, setelah aku pikir pikir semalam suntuk, fir kumohon bantulah aku mencari jalan hidupku yang baru, aku tak ingin hidup terus bergantung pada kedua orangtuaku…!, aku juga ingin tau apa itu arti sebuah kehidupan”
Firman pun terdiam sesaat. Tiba tiba ia menepuk dadaku.
“herman… Kisah baru, jalan baru, kehidupan baru itu datangnya dari sini, dari hati” firman segera berdiri
“firman lihatlah awan hitam yang menutup bulan itu. Andaikan awan tak menutupi bulan itu bulan itu pasti tau bagaimana bumi itu, pergilah kau ke luar dari kota ini dan jalanilah hidupmu mulai dari nol, pasti kau kan punya kehidupan baru, kisah baru, dan kau akan tau apakah itu sebuah kehidupan”

Terimakasih tuhan, terimakasih firman sekarang aku tau apa itu arti kehidupan. Walaupun aku harus bekerja keras untuk tau apa itu sebuah kehidupan, mulai dari aku pergi ke suatu desa terpencil, disana aku dapat merasakan ramah tamahnya orang pedesaan, betapa mereka hidup bahagia walaupun dalam kesusahan. Dan mencari pekerjaan, yang awalnya sangat sulit aku lakukan akan tetapi berkat kau aku bisa hidup mandiri dan tau apa itu sebuah kehidupan. Kehidupan itu seperti simfoni yang indah kadang bahagia kadang sedih alunan simfoni itu. Terimakasih tuhan, terimakasih firman terimakasih semua.


Sumber:
cerpenmu.com
wikipedia.com
education.google.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Ilmu Sosial Dasar; Bagan Bab 7 MASYARAKAT PERDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN